SETERU
Dan seperti yang telah terjadi sebelum ini, Manusia dan kebiasaannya memanipulasi ruang hidupnya sendiri. Egois yang bercabang melebihi tingginya Kodrat Manusia. Aku masih menyaksikan itu dari pinggir, tentang mereka yang mencibir, entah sebab apa, atau benar mungkin tentang semua khayalanku. Manusia butuh tumbal untuk bertahan hidup. Dan aku yang menjadi itu semua, jadi dingin dan kosong. Waktu yang menjadi Tuhan, Kenyataan yang menabikan manusia, dan Hasil akhir yang membunuh pernyataan palsu.
Ini semua tentang kehidupan yang tidak sinergi lagi, tentang kenyataannya kenyataan yang akan ku paparkan. Bahwasanya , disetiap jengkal tanah bumi, Manusia antar manusia akan saling bergantung, dalam kelam keburukannya yang saling dibongkar, maupun dalam romansa biru cinta tak abadi.
awalnya aku datang dari dunia yang sama namun pada adat yang berbeda, mereka tak tahu bahwa dulu srikandi srikandi awan sering meminta pepatah dariku, tapi disini, ditempat baru ini, aku diasingkan , diludahi, dimurkai oleh insan yang tangguh perawakannya dalam arenanya. Sampai sampai dia menyusun armada untuk siap kapan saja melepaskan busur panah ketubuhku. Tapi sang Cerah tak buta, sampai kapanpun pandangannya tak pernah nanar. Dia tahu dari bau tubuhku, akulah sang punggawa besi diatas awan, aku yang mewarisi gravitasi tanpa batas diatas sana. negri negri lain bingung, termasuk kurawa kurawa yang telah dia bodohi.
Lebih baik aku tersungkur atas jejak langkahku sendiri, daripada terpeleset dari lidah yang tak berhati.
Semoga kita sadar, tak ada lagi hal buruk siapapun yang kita umpatkan dibelakang, Lebih baik kita bongkar didepan lalu menjadi benih yang indah, daripada kita takluk pada sesuatu yang dibuat lidah lidah penghapus dosa.... Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar